Istiqomah
Rabu, 23 Oktober 2013
Selasa, 22 Oktober 2013
Rasululuah SAW pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud. “Hampir saja umat-umat menyerang kalian dari segala penjuru, bagaikan rayap-rayap yang menyerang tempat makannya sediri” Lalu para sahabat bertanya, “Apakah jumlah kita waktu itu sedikit ya Rasulullah?”
“Tidak,” jawab Rasulullah,
“Malahan pada waktu itu kalian berjumlah sangat banyak, tetapi kalian adalah
buih bagaikan air bah. Sesungguhnya Allah SWT telah mencabut kewibawaan kalian
dan pada waktu yang sama Allah menanamkan Wahn dalam hati kalian.” Para sahabat
bertanya, “Apa Wahn itu ya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, Cinta dunia
dan takut mati.
Kebersamaan yang dimiki
oleh umat islam diikat oleh sesuatu yang bernama aqidah. Sebuah ikatan yang
sangat kuat, menembus batas suku bangsa, negara, bahasa, ras, kota,
pulau,bahkan benua sekalipun. Sekali seseorang bersahadat dan ia tetap dalam
sahadatnya itu, maka ia adalah saudara kita.
Contoh terbaik kebersamaan
umat islam yang harus menjadi contoh tauladan kita adalah ketika zaman
Rasulullah SAW dan para sahabat yakni kaum muhajirin dan anshor. Lihatlah
bagaimana kuatnya ikatan antarumat islam di kala itu. Saking kuatnya ikatan
ini, seakan-akan seperti saudara kandung sendiri.
Orang-orang anshor
berlomba-lomba memberikan bantuan kepada kaum muhajirin yang datang dari Mekah.
Dan mereka melakukannya dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
Itulah contoh terbaik sepanjang masa yang dapat kita tiru pada kehidupan kita saat
ini.
Dan kalau kita mau
merenung lebih dalam lagi, mengapa kondisi umat islam seperti ini? Disaat
musuh-musuh Islam sedang gencar-gencarnya menyerang Islam dari berbagai sudut,
kita sesama Islam saja masih berselisih. Imam Abu Hanifah (Hanafi) pernah
berkata: “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia
tidak tahu darimana kami mengambil sumbernya”
Imam Malik (Maliki) juga
pernah bekata: “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah,
terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan
Al-Quran dan sunnah, ambillah, dan bila tidak sesuai dengan Al-Quran dan
sunnah, tinggalkanlah”
Imam Syafi’i, pun seperti
itu, ia mengatakan “Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang
berlainan dengan hadits Rasulullah SAW, peganglah hadits Rasulullah SAW itu dan
tinggalkanlah pendapatku itu”
Begitupun dengan Imam
Ahmad bin Hambal (Hambali): “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau
kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka
mengambil.”
Begitulah para imam
madzhab menganjurkan untuk tidak merasa paling benar sendiri dan tidak taqlid
kepada satu golongan, merekalah salafus shalih yang benar.
Langganan:
Postingan (Atom)
